Inilah Hubungan Hujan dengan Tahun Baru Imlek

By Categories : Umum

Seperti yang Anda ketahui Tahun Baru Imlek merupakan salah satu perayaan paling penting bagi orang Tionghoa. Di Tiongkok sendiri ada beberapa adat dan tradisi yang berkaitan dengan perayaan tersebut, seperti makan bersama pada saat tahun baru, penyulutan kembang api dan masih banyak lagi. Secara umum, hal tersebut hampir sama seperti tradisi Imlek di Indonesia.

Hubungan Hujan dengan Tahun Baru Imlek

Mitos tentang Perayaan Imlek

Menurut legenda, pada zaman dahulu Nian adalah seekor raksasa ganas yang berasal sari pegunungan. Raksasa tersebut akan muncul di akhir musim dingin untuk memakan hasil panen, ternak dan bahkan warga desa. Dengan adanya hal ini para penduduk takut dan untuk melindungi diri dari Nian para penduduk menaruh makanan di depan pintu pada awal tahun. Dengan melakukan hal ini para penduduk percaya Nian hanya akan memakan makanan yang disediakan dan tidak akan memakan hewan ternak ataupun warga penduduk.

Pada suatu waktu, salah satu seorang penduduk melihat anak kecil yang menggunakan pakaian warna merah, dan dalam waktu itu juga Nian lari ketakutan. Sejak saat itulah para penduduk percaya bahwa Nian takut akan warna merah, sehingga setiap tahun baru datang para penduduk akan menggantungkan gulungan kertas dan lentera berwarna merah di depan rumah. Tak hanya itu saja, para penduduk juga menggunakan kembang api untuk mengusir Nian.

Sejarah perayaan Imlek, adat dan tradisi inilah yang kemudian berkembang menjadi perayaan Tahun Baru Imlek. Sejak saat itu, akhirnya Nian ditangkap oleh Hongjun Laozu, dan menjadikan Nian sebagai kendaraan Hongjun Laozu itu sendiri.

Hubungan hujan dengan perayaan Imlek

Sudah menjadi rahasia umum jika pada saat perayaan Imlek identik dengan turun hujan. Lantas sebenarnya apa makna hujan dengan perayaan Imlek bagi warga Tionghoa?

Sebenarnya, hujan dalam tradisi Tionghoa diartikan sebagai pembawa berkah dan keberuntungan. Para masyarakat Tionghoa percaya bahwa semakin besar hujan yang turun  maka semakin besar pula rejeki yang akan datang. Ketika hujan turun banyak masyarakat Tionghoa yang berharap agar panjang umur, keberuntungan semakin bertambah dan rejeki pun bertambah.

Tak hanya itu saja, hujan yang terjadi pada saat perayaan Imlek juga diorientasikan sebagai pendingin suasana, yang berarti dapat membawa kedamaian dari ketamakan manusia yang ada di dunia, khususnya pada tahun monyet ini.

Para masyarakat Tionghoa meyakini bahwa  di tahun monyet ini banyak sekali orang licik, adu gesit serta adu lincah. Bagi masyarakat Tionghoa sendiri rejeki dalam tahun baru tersebut dapat terlihat dari deras tidaknya hujan yang datang. Semakin deras hujan yang terjadi maka rejeki dan kemakmuran pun akan lebih baik lagi dan begitupun sebaiknya.

Nah itulah makna dari hujan dengan perayaan Tahun Baru Imlek.